Capung Ampla Ditemukan di Banyuwangi   [Tempo]

Kamis, 31 Januari 2013 | 20:10 WIB

TEMPO.CO, Banyuwangi-Indonesia Dragonfly Society (IDS), komunitas pecinta capung Indonesia, menemukan capung jenis Amphiaeschna ampla di lereng Gunung Ijen, Hutan Kalibendo, Banyuwangi, Jawa Timur. Empat ekor ampla jantan ditemukan pada ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut.

"Temuan capung ampla ini merupakan pertama kali selama lebih dari 50 tahun," kata Ketua Indonesia Dragonfly Society, Wahyu Sigit, kepada Tempo, Kamis, 31 Januari 2013. Terakhir kali ampla dicatat oleh peneliti asal Belanda, Lieftinck, pada 1940 dan belum ada pendiskripsiannya. Lieftinck mencatat temuan ampla di Jawa pada Majalah Treubia Buitenzorg terbitan Bogor.

Awalnya, peneliti IDS kebingungan dengan jenis capung yang sebelumnya tak pernah mereka kenali itu. Mereka kemudian berkonsultasi dengan Rory A. Dow, seorang ahli capung dari Worldwide Dragonfly Association (WDA) yang juga bekerja di National Museum of Natural History, Leiden, Belanda. Dari Rory A. Dow itulah mereka akhirnya memberikan informasi tentang jenis capung ampla.

Wahyu menjelaskan, keberadaan ampla menunjukkan kondisi hutan dan perairan di Kalibendo masih terjaga baik. Sebab hidup capung sangat bergantung pada kualitas hutan dan air. "Capung sangat rentan terhadap polutan."

Kondisi hutan dan air yang masih baik, kata Wahyu, juga ditunjukkan dengan keragaman jenis capung yang ditemukan komunitas pecinta capung itu. Sejak pendokumentasian dimulai 26 Januari lalu, peneliti menemukan sedikitnya 30 jenis capung.

Pendokumentasian terhadap capung Indonesia selama ini lebih banyak dilakukan peneliti asing. Mereka menjadikan Indonesia sangat penting karena mewakili negara tropis dimana populasi capung terancam punah.

Kordinator Pemuda Pecinta Lingkungan (Kappala) Banyuwangi, Rosdi Bahtiar Martadi mengatakan, temuan capung ampla seharusnya menyadarkan masyarakat dan pemerintah akan pentingnya menjaga kelestarian hutan. "Capung menjadi bioindikator lingkungan."

Menurut Rosdi, kelestarian hutan di Banyuwangi saat ini terancam dengan rencana eksploitasi pertambangan emas di hutan lindung Gunung Tumpang Pitu, Pesanggaran. Pertambangan emas tidak hanya merusak kawasan hutan tapi mengancam keberadaan air yang menjadi habitat capung.

IKA NINGTYAS

31 Jan, 2013


-
Source: http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2013/01/31/brk,20130131-458317,id.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

No comments:

Post a Comment